Kumpulan Materi Sejarah, Wisata dan Artikel Menarik Lainnya

Sejarah Dinasti Han (206 SM - 220 SM)

Sejarah Dinasti Han atau nama lainnya adalah Hanzi dan Hanyu piyin (206 SM sampai 220 SM) merupakan Dinasti besar, bisa dibilang paling berpengaruh di China (Tiongkok) dan salah satu zaman kejayaan dalam sejarah China. Dinasti Han berhasil mencapai kesatuan politik dan kebudayaan. Oleh karena itu orang-orang China bangga akan adanya Dinasti Han ini.  Pada artikel sebelumnya kita telah membahas tentang Dinasti Chou dan Dinasti Chin, bagi yang belum membacanya bisa dibaca terlebih dahulu.

Dinasti Han disisipi oleh dinasti lain yaitu Dinasti Hsin (8-23 M). Oleh karena itu, Dinasti Han dibagi terbagi menjadi dua masa, pertama, masa Han sebelum Dinasti Hsin disebut Han Barat (206 SM - 8 M) dengan pusat pemerintahannya di Chang An. Kedua, masa Han sesudah Dinasti Hsin disebut Han Timur (23-220 M), pusat pemerintahannya berada di Loi (Luoyang).

Peta Wilayah Dinasti Han

Sejarah Dinasti Han

1. Dinasti Han Barat (206 SM – 8 M)

Sesudah Dinasti Chin runtuh muncullah Dinasti Han yang didirikan oleh Liu Pang, setelah naik tahta bergelar Han Kao Tzu (206-195 SM). Untuk memperkuat kedudukannya, banyak bekas teman seperjuangannya dan anggota keluarganya yang diangkat menjadi kepala daerah dengan gelar Wang (raja kecil). Han Kao Tzu tampaknya banyak belajar dari keruntuhan Dinasti Ch’in. Kao Tzu menyatakan bahwa runtuhnya dinasti sebelumnya karena disebabkan oleh kurangnya dukungan dari pemerintah daerah. Oleh karena itu ia banyak mengangkat teman seperjuangannya menjadi kepala daerah, dan dengan demikian sistem feodalisme muncul kembali.

Pada 195 SM Han Kao Tzu meninggal dunia dan digantikan oleh Hu Ti (195-188). Kaisar ini sangat lemah, ia meninggal tanpa meninggalkan putera, namun anak angkatnya yang masih kecil dinobatkan menjadi kaisar dengan Lu Hao (bekas permaisuri Han Kao Tzu) sebagai walinya. Setelah Lu Hou berkuasa ia menginginkan agar kekuasaannya jatuh ke tangan anggota keluarganya dan ingin mendesak kekuasaan Liu Pang. Saat itu, banyak pejabat daerah yang diganti oleh anggota keluarga Lu. Namun sampai Lu Hou meninggal dalam kenyataannya keluarga Liu Pang masih kuat.

Setelah Lu Hou meninggal pada 180 SM, keluarga Liu Pang dapat merebut kembali kekuasaannya dan kemudian diangkatlah Han Wen Ti (180-156 SM). Han Wen Ti adalah kaisar yang bijaksana. Filosofi pemerintahannya di dasarkan pada ajaran Lao Tze. Ia tidak menggangu rakyat tetepi juga tidak mengikut sertakan rakyat dalam pemerintah. Pada masa pemerintahnnya diadakan “Civil Service Examinations” (ujian pegawai negeri).

Kaisar Terbesar di Dinasti Han

Sejarah Dinasti Han (206 SM -  220 SM)
Kaisar terbesar dalam Dinasti Han ialah Han Wu Ti, yang membawa kebesaran dan kemasyuran Dinasti Han. Ia banyak memajukan negerinya baik ke dalam maupun keluar. Pengangkatan para pengawal menggunakan sistem, sebagian berdasarkan pemilihan dan sebagian lain usulan pembesar-pembesar setempat. Peraturan ini dilakukan atas inisiatif  dan anjuran Tung Shung Su, ajaran Konfusianisme dijadikan asas pemerintahan. Jika Han Kao Tzu menghidupkan kembali feodalisme, maka Han Wu Ti mengadakan peraturan-peraturan yang menyingkirkan feodalisme, karena sistem ini dianggap menimbulkan bencana seperti pada masa Dinasti Chou.

Han Wu Ti menetapkan jika seorang kepala daerah meninggal, maka tanah daerah itu dibagi rata kepada putera-puteranya, sehingga tidak hanya diwariskan kepada anak sulung saja. Dengan demikian tidak ada negara bagian yang sangat kuat, yang berarti tidak akan mengkhawatirkan kekuasaan kaisar.

Gangguan dari Bangsa Barbar

Pada masa ini, gangguan dari bangsa barbar (Hsiung Nu) masih sering terjadi. Untuk mengatasi serangan, Han Wu Ti mengadakan persekutuan dengan bangsa Jueh Chin, sehingga kemudian berhasil mendirikan pertahannaya di Bokhnara, yakni di lembah Sungai Oxus. Han Wung Ti mengirim jenderal Chang Chien untuk mengadakan persekutuan, namun dalam perjalanan ia tertangkap oleh bangsa barbar dan ditahan selama 10 tahun. Akhirnya setelah 12 tahun, Chang Chien bebas dengan hanya diikuti oleh 2 orang dari 100 orang serdadunya yang dulu mengikutinya.

Walaupun perjalanan Chang ini gagal, namun perjalanan terebut mempunyai arti yang penting bagi China, terutama pada bidang perekonomian. Pertama, China mengenal dan mendapatkan kontak dengan negara-negara di Asia Tengah. Kedua, dengan perjalanan tersebut Han Wu Ti menaruh perhatian besar terhadap perdagangan dengan pihak luar. Berkat Han Wu Ti juga beberapa daerah yang sekarang disebut Turkistan berhasil ditaklukan oleh dinasti Han.

Jalur Sutera
Selanjutnya diketahui adanya dua jalan menuju padang pasir, yang pertama dibangun di utara sepanjang tepi utara daerah Torin dengan melewati Turfan, dan yang kedua dibangun di selatan melewati Chotan, Yorkan dan Kasmir. Kemudian didengar kabar bahwa di daerah Fergana banyak menghasilkan kuda yang bagus-bagus. Han Wu Ti sangat tertarik dan menginginkan kuda-kuda tersebut untuk keperluan perang melawan bangsa Hsiung Nu. Han Wu Ti mengirim Jenderal Li Kuang Li, dan berhasil menaklukkan Fergana serta dapat mendapatkan kuda-kuda yang dimaksud.

Sejak itu pula Han Wu Ti menempatkan pasukan pasukannya untuk menjaga keamanan di kedua jalan yang semakin ramai tersebut. Jalan-jalan itu kemudian dikenal dengan nama "Jalan Sutera", karena diantara banyak dagangan yang dibawa lewat jalan tersebut yang terbanyak ialah sutera. Jalan Sutera itu merupakan tali penghubung antara dua kerajaan besar, yakni China dan Romawi. Memang pada waktu itu telah ada orang-orang romawi yang mengetahui bahwa dari negerinya ada jalan menuju China.

Menurut mereka antara China dan Roma telah ada hubungan dagang. Contohnya sutera, teh, porselin dan lain-lain masuk ke Eropa, sementara buah anggur, barang-barang gelas dan lainnya masuk ke China. Dengan demikian Chang Ch'ien telah berjasa menghubungkan China di satu pihak dengan India dan Roma di pihak lain. Dengan hubungan dagang ini pula, maka terjadilah asimilasi kebudayaan dan masing-masing saling memperkaya satu sama lain.

Berakhirnya Masa Han Wu Ti

Han Wu Ti meninggal pada tahun 87 SM, setelah itu terjadilah perpecahan, di mana permaisuri-permaisuri memberikan kekuasaan kepada keluarga mereka. Akhirnya setelah Ch'eng Ti, tampil Wang Mang dengan mendirikan dinasti baru yakni Dinasti Hsin (8-23M). Hang Mang adalah seorang yang bercita-cita besar untuk kemakmuran rakyatnya. Ia berusaha untuk mengadakan perubahan politik dan sosial. Usaha yang dilakukannya antara lain :
  1. Menasionalisasi tanah milik tuan tanah dan membagikannya kepada petani secara merata dengan sistem sembilan sawah.
  2. Mendirikan lumbung-lumbung desa, dengan tujuan untuk mengendalikan harga.
  3. Mengadakan pinjaman uang dengan bunga 10%, pelunasan dilakukan waktu panen.
  4. Mengadakan dan memonopoli penjualan garam, besi, tembaga, arak dan sumber lain.
  5. Melarang perdagangan budak.
Namun perubahan-perubahan yang dilakukan kemudian mendapatkan perlawanan dari pihak yang bersangkutan, sehingga timbul kekacauan. Akhirnya pada 23 SM timbullah suatu pemberontakan di bawah pimpinan Liu Hsin yang berhasil menghancurkan Chang An dan membunuh Wang Mang. Dengan meninggalnya Wang Mang, maka berakhirnya Dinasti Hsin dan muncul kembali Dinasti Han atau Dinasti Han Timur.

Baca selanjutnya : Dinasti Han Timur (8-220 M)

Sumber : Drs. Leo Agung S., M.Pd. 2012. Sejarah Asia Timur 1. Ombak.
Share ke teman kamu:

Related : Sejarah Dinasti Han (206 SM - 220 SM)