Kumpulan Materi Sejarah, Wisata dan Artikel Menarik Lainnya

REVOLUSI HIJAU : Pengertian, Latar Belakang, dan Dampaknya

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas materi tentang Revolusi Hijau secara lengkap, meliputi pengertian, latar belakang, tujuan dan dampaknya. Secara umum, pengertian revolusi hijau adalah perubahan fundamental dalam pemakaian teknologi budidaya pertanian negara-negara berkembang di Benua Asia, tepatnya berlangsung pada tahun 1950 hingga 1980-an.

Pengertian Revolusi Hijau

Revolusi hijau merupakan perubahan cara bercocok tanam menggunakan teknik tradisional ke modern dengan tujuan meningkatkan produktivitas hasil pertanian. Revolusi hijau sering juga disebut revolusi agraria dan revolusi produksi biji-bijian. Beberapa negara berkembang yang berhasil menerapkan revolusi hijau contohnya seperti Bangladesh, India, Indonesia, Thailand, Tiongkok dan Vietnam.
REVOLUSI HIJAU : Pengertian, Latar Belakang, dan Dampaknya

Latar Belakang Revolusi Hijau

Penyebab atau latar belakang munculnya revolusi hijau yaitu disebabkan karena hancurnya lahan pertanian akibat terjadinya Perang Dunia 1 dan Perang Dunia 2, dan adanya upaya peningkatan produksi pangan karena pertumbuhan jumlah penduduk meningkat tajam dari tahun ke tahun, khususnya di negara berkembang.

Awal mula revolusi hijau bermula dari hasil penelitian Thomas Robert Malthus pada tahun 1766 hingga 1834. Ia berpendapat bahwa kemelaratan dan kemiskinan merupakan masalah yang sedang dihadapi oleh manusia yang disebabkan karena tidak seimbangnya hasil produksi pertanian dengan pertumbuhan jumlah penduduk di dunia.

Akibat tulisan tersebut, muncul gerakan pengendalian pertumbuhan jumlah penduduk dengan cara mengontrol angka kelahiran. Tidak hanya itu, usaha untuk mencari bibit-bibit unggul dalam pertanian juga dilakukan.

Dampak Revolusi Hijau

Dampak revolusi hijau dibagi menjadi dua, yakni positif dan negatif. Dampak positif revolusi hijau yaitu meliputi :
  • Merangsang kesadaran masyarakat, khususnya petani akan pentingnya teknologi dalam bidang pertanian, guna meningkatkan hasil produktivitas.
  • Munculnya tanaman jenis unggul dengan umur pendek, sehingga dapat dipanen beberapa kali dalam setahun.
  • Meningkatkan pendapatan petani dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara.
Kemudian dampak negatif revolusi hijau, meliputi :
  • Ketergantungan pada zat kimia pembasmi hama dan pupuk kimia, sehingga biaya produksi tinggi.
  • Penggunaan teknologi modern hanya bisa dirasakan oleh petani kaya.
  • Sistem bagi hasil mengalami perubahan, menjadi sistem borongan.
Tujuan revolusi hijau pada dasarnya untuk meningkatkan hasil produksi pertanian, caranya dengan melakukan eksperimen-eksperimen bibit unggul dan penelitian. Revolusi hijau di Indonesia berkembang pada masa orde baru, tepatnya saat Soeharto menjadi Presiden.

Revolusi Hijau di Indonesia berhasil membuat negara Indonesia bersawasembada pangan selama lima tahun, yakni dari 1984 hingga 1989. Namun adanya revolusi hijau menyebabkan terjadinya kesenjangan ekonomi, dianggap hanya menguntungkan petani kaya yang memiliki tanah lebih dari 1/5 hektar.

Pelaksanaan revolusi hijau di Indonesia didasarkan dengan empat pilar, meliputi sistem irigasi, penerapan pestisida untuk hama, pupuk kimia untuk meningkatkan produktivitas dan penggunaan varies unggul.

Penerapan tersebut kemudian dapat meningkatkan hasil pertanian petani sebanyak tiga kali lipat, namun pada perkembangan selanjutnya revolusi hijau menuai kritik karena berdampak pada kerusakan lingkungan.

Selain kerusakan lingkungan, perubahan tersebut menyebabkan kesenjangan ekonomi dan dianggap tidak menjangkau seluruh strata dalam bidang pertanian.

Baca Juga :
Demikian pembahasan mengenai REVOLUSI HIJAU : Pengertian, Latar Belakang, dan Dampaknya. Semoga bermanfaat dan berguna bagi pembaca semua, baca juga artikel menarik dan informatif lainnya. Kurang lebih kami mohon maaf, sekian dan terima kasih.
Share ke teman kamu:

Related : REVOLUSI HIJAU : Pengertian, Latar Belakang, dan Dampaknya