Alat Serpih : Pengertian, Penemu, Ciri-Ciri dan Fungsinya

Alat Serpih – Di dalam konteks perkembangan alat-alat dari bahan batu tingkat plestosen di Indonesia dan daerah-daerah sekitarnya di Asia Tenggara, alat-alat ini acap kali ditemukan bersamaan dengan kapak perimbas atau alat batu masif sejenis lainnya. Di beberapa tempat, alat serpih adalah unsur dominan dan kadang-kadang alat ini merupakan unsur pokoknya.

Di Indonesia, alat serpih ditemukan mungkin sekali pada tingkat yang lebih tua, yaitu pada akhir Plestosen Tengah atau permulaan Plestoses Atas. Tempat-tempat penting di Indonesia yang mengandung alat-alat ini dalam jumlah yang lebih menonjol adalah Punung, Sangiran, dan Ngandong di Jawa. Sementara di Sulawesi, alat ini juga ditemukan di daerah Cabbenge dan beberapa tempat lainnya.

alat serpih

Apa itu pengertian alat serpih?

Secara umum, definisi alat serpih merupakan alat-alat kecil yang dibuat dengan bahan batu berjenis gamping. Alat ini disebut juga dengan nama flakes. Tradisi alat-alat srpih menghasilkan perkakas-perkakas yang berbentuk sederhana dengan memperlihatkan kerucut pukul yang jelas.

Selain batu gamping, beberapa bahan batuan yang umum digunakan adalah jenis batuan tufa dan batuan endap. Alat serpih berukuran kecil, kurang lebih antara 4 hingga 10 cm. Sebagian alat menunjukan teknik pengerjaan yang telah maju, dengan penyiapan bentuk-bentuk alat secara teliti sebelum dilepaskan dari batu intinya, sehingga pada sejumlah alat tampak faset-faset di dataran pukulnya.

Di dalam konteks tradisi tingkat Plestosen di Indonesia, sebagian serpih bilah yang ditemukan di Punung tergolong maju.

Baca Juga: Teknik Pembuatan Alat Alat Perunggu Zaman Prasejarah

Penemu Alat Serpih di Indonesia

Seperti yang sudah disebutkan diatas, alat-alat serpih banyak sekali ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Dibawah ini beberapa contoh penemuan alat ini dan tokoh-tokoh penemunya.

1. Penemuan di Daerah Sangiran

Alat jenis serpih pertama kali di temukan oleh tokoh bernama Von Koenigswald, tepatnya di Sangiran pada tahun 1934. Sangiran merupakan tempat penemuan fosil-fosil Pithecanthropus. Di tempat ini pula ditemukan alat-alat serpih. Alat-alat yang berhasil ditemukan dikumpulkan di desa Ngebung.

Penemuan serpih berada di endapan kerikil Notopura yang terletak di atas endapan-endapan kubah secara tidak selara. Lapisan ini memiliki tebal kurang lebih 20 meter, dan tersusun dari endapan konglomerat yang tertutup oleh lapisan kerikil dan pasir.

Alat-alat serpih yang ditemukan di daerah Sangiran pada umumnya berukuran kecil, antara 2 hingga 4 cm, dan diperkirakan dibuat dengan teknik sederhana (teknik Clacton).

2. Penemuan di Daerah Ngandong

Selain Sangiran, alat serpih juga ditemukan di daerah Ngandong. Lokasi penemuan alat-alat tidak jauh dari tempat ditemukannya Pithecanthropus Soloensis di undah-udakan Sungai Bengawan Solo. Tempat penemuan berada di ketinggian kurang lebih sekitar 20 meter diatas permukaan sungai.

Tokoh yang melakukan pencarian dan berhasil menemukan alat ini di Ngandong adalah Movies dan Van Heekeren, tepatnya pada tahun 1938. Pada penelitian selanjutnya, mereka juga berhasil menemukan alat serupa di daerah Setren.

3. Penemuan di Daerah Flores

Selain kedua tempat diatas, alat serupa juga ditemukan di Flores, tepatnya di daerah Wangka, Soa dan Maumere. Tokoh yang terlibat dalam penelitian ini yaitu bernama Verhoeven. Penelitian dilakukan dalam kurun waktu 1957-1958, alat yang ditemukan adalah alat serpih bilah. Alat ini diperkirakan berasal dari kala Plestosen.

Serpih bilah memiliki ukuran yang kecil, dan sebagian ujungnya berbentuk konveks. Alat-alat tersebut sebagian ditemukan di lapisan pasir dan abu yang mengandung pula fosil tulang-tulang hewan.

Baca Juga: Kebudayaan Zaman Batu dan Logam di Indonesia

Penemuan ini terletak dibagian barat Flores Tengah, disebelah dataran tinggi yang disebut dataran Soa, pada ketinggian kurang lebih 500 meter diatas permukaan air laut. Lapisan yang membentuk dataran Soa meliputi formasi olakile, olabula, gero dan endapan-endapan gunung api.

Ciri-Ciri Alat Serpih

Berikut ini analisis ciri-ciri alat serpih, antara lain :

  • Alat dari bahan batuan seperti batu tufa, gamping dan endap.
  • Bentuknya surut (serut ujung, serut cekung, serut gigir) dan lancip (lengkung dan oval).
  • Ada juga alat serupa yang bentuknya membulat, meruncing dan cekung.
  • Ukurannya kecil, antara 2 hingga 10 cm, tergantung tempat penemuannya. Setiap tempat berbeda-beda.
  • Bentuknya memperlihatkan kerucut pukul yang jelas.
  • Di Indonesia, alat ini berasal dari masa Plestosen Tengah dan Atas.
  • Pembuatannya dengan teknik Clacton.

Fungsi Alat Serpih

Kegunaan alat serpih tergantung bentuknya seperti apa, karena alat-alat ini memiliki banyak bentuk seperti serut, grudi, pisau dan penusuk. Jadi dapat disimpulkan bahwa fungsi alat ini sangat banyak. Berikut ini contoh beberapa kegunaannya, meliputi :

  1. Digunakan untuk menguliti hewan
  2. Sebagai alat pisau alami
  3. Digunakan sebagai alat penggaruk dan untuk mencari umbi-umbian di dalam tanah.
  4. Sebagai alat untuk menghaluskan.
  5. Digunakan untuk pengikis.
  6. Kesimpulan, alat jenis serpih digunakan utama yaitu untuk menunjang kehidupan sehari-hari manusia pada masa itu.

Baca Juga: Pembabakan Zaman Prasejarah Berdasarkan Arkeologi dan Geologi

Demikian pembahasan mengenai alat serpih, yang merupakan salah satu peninggalan sejarah yang sangat bermanfaat untuk mengungkap kehidupan manusia pada zaman dahulu. Sekian, terimakasih.

Sumber Referensi :

  • Notosusanto, N., Poesponegoro, M.D. 1993. Sejarah Indonesia I. Jakarta : Balai Pustaka. hal 110-116.
  • H.R. Van Heekeren. The Stone Age of Indonesia. 1972. hal 48-51.
  • I.C. Glover. Exvanvation in Timor, A Study of Economics Change and Cultural Continuity in Prehistory. Thesis. 1970.