Kerjasama Kaum Nasionalis Sekuler : Penjajahan Jepang di Indonesia

Hubungan kerjasama antara kaum nasionalis sekuler dengan Jepang dituangkan dalam bentuk institusional. Pada akhir bulan Maret 1942 dibentuk suatu perhimpunan dengan nama Gerakan 3 A. Namanya dijabarkan dari semboyan propaganda Jepang pada waktu itu “Nippon cahaya Asia, Nippon pelindung Asia, Nippon pemimpin Asia”. Gerakan ini mulai diperkenalkan pada masyarakat pada bulan Mei tahun 1942 melalui masmedia.
Gerakan 3 A hanya bertahan beberapa bulan saja. Pemerintah Jepang beranggapan yaitu Gerakan 3 A tidak efektif untuk menggerakkan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, Jepang merencanakan pembentukan organisasi baru pada bulan Desember. Organisasi baru ini dipimpin oleh para tokoh Pergerakan Nasional yang lebih dikenal dalam kalangan masyarakat. Tokoh tersebut meliputi Ir. Soekarno, Drs. Moh Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan K.H Mas Mansur. Kerjasama kaum nasionalis Indonesia dengan Jepang kemudian..

Pemerintah Jepang menggunakan tokoh-tokoh tersebut dengan harapan dapat menggerakkan masa untuk usaha perang mereka serta membangkitkan perasaan anti-Barat dan anti-bangsa kulit putih. Sentimen rasional sangat ditonjolkan oleh Jepang. Pada bulan Desember 1942, dibentuk satu panitia persiapan pembentukan suatu organisasi rakyat Indonesia yang dipimpin oleh Ir. Soekarno.

Baca Juga : Dampak Penjajahan Jepang di Berbagai Bidang

Kerjasama Kaum Nasionalis Sekuler masa Penjajahan Jepang di Indonesia
Kerjasama Kaum Nasionalis Islam Sekuler dengan Pemerintah
Jepang – Organisasi Poetra dan Jawa Hokokai

Kerjasama Kaum Nasionalis Sekuler dengan Pihak Jepang

Pembentukan Organisasi Poetra

Pada tanggal 1 Maret 1942 Ir Sukarno mengumumkan lahirnya gerakan baru yang diberi nama “Poesat Tenaga Rakyat” atau memiliki singkatan POETRA Tujuan pembentukan organisasi ini menurut Ir Soekarno adalah untuk membangun dan menghidupkan segala apa yang dirobohkan oleh Imperialisme Belanda.

Sementara itu bagi Jepang, Poetra bertujuan memusatkan sumber daya manusia yang ada di Indonesia untuk membantu dalam kegiatan perang yang sedang berlangsung. Kerjasama kaum nasionalis sekuler dengan Jepang. Poetra memiliki pemimpin pusat dan pemimpin daerah, berikut ini pembagiannya :

  1. Pejabat Susunan Pembangunan
  2. Pejabat Usaha dan Budaya
  3. Pejabat Propaganda

Pada bulan April 1943 pengembangan Poetra baru dimulai. Banyak sekali orang-orang dari berbagai golongan bergabung dengan Poetra. Salah satu kumpulan anggota yang besar yang sudah menyatakan untuk bergabung yaitu 15 ribu orang dari Pengurus Persatuan Guru seluruh Indonesia.

Tetapi Poetra tingkat daerah atau syu yang bertingkat lebih rendah tidak bisa berkembang dengan baik. Tidak berkembangnya organisasi ini disebabkan karena tingkat sosial-ekonomi di daerah kurang baik.

Dengan segala kekurangan yang ada, Poetra berhasil juga untuk ikut mempersiapkan rakyat Indonesia secara mental bagi kemerdekaan yang akan berlangsung dikemudian hari. Poetra melakukan rapat-rapat besar, rapat tersebut di sebar luaskan melalui media komunikasi masa dari pihak Jepang.

Para pemimpin Indonesia dapat mengenal dan meluaskan pengaruhnya lebih luas daripada saat penjajahan masa Hindia Belanda.Nampaknya pihak Jepang semakin lama menyadari bahwa Poetra lebih bermanfaat bagi pihak Indonesia dari pada pihak sendiri. Putra lebih mengarahkan perhatian rakyat kemerdekaan Indonesia daripada kepada usaha perang pihak Jepang.

Baca Juga :
1. Sejarah Politik Etis

Pembentukan Organisasi Jawa Hokokai

Setelah pemerintah Jepang menyadari hal tersebut, kemudian pada tahun baru 1944 melalui panglima tentara keenambelas Jepang membentuk organisasi baru bernama Himpunan Kebaktian Jawa atau sering disebut Jawa Hokokai. Jepang membentuk organisasi baru ini karena semakin besarnya perang yang terjadi, hal ini membuat perlunya persiapan rakyat lahir & batin.

Berbeda dengan Poetra, Jawa Hokokai menegaskan dengan tegas merupakan organisasi resmi bentukkan pemerintah Jepang. Pemimpinnya pul langsung dari Gunseikan. Berikut ini kegiatan organisasi Jawa Hokokai :
  • Melaksanakan segala perintah dengan ikhlas dan nyata serta menyumbangkan seluruh tenaga kepada pemerintah Jepang.
  • Menjadi penyambung  bagi rakyat agar menyumbangkan tenaganya dengan dasar persaudaraan sesama dan senasib
  • Memperkokoh pembelaan tanah air Indonesia.

Organisasi Jawa Hokokai perkembangannya tidak jauh berbeda dengan organisasi sebelumnya yakni organisasi Poetra. Namun dalam usahanya, mereka ditugaskan untuk melaksanakan pengerahan seperti padi dan barang-barang dalam usaha untuk membantu peperangan yang dilakukan Jepang.

Seluruh kegiatan di bidang tersebut dilakukan seluruhnya oleh Jawa Hokokai, tepatnya sekitar pertengahan tahun 1945. Semua yang bermanfaat bagi usaha perang dikuras habis melalui Jawa Hokokai, baik ekonomi maupun sumber daya manusia. Hal tersebut dilakukan Jepang demi memenangkan perang yang berlangsung, yaitu perang Asia Timur Raya.

Itulah sedikit pembahasan tentang Hubungan Kerjasama Kaum Nasionalis Sekuler dengan Pemerintah Jepang. Semoga berguna dan bermanfaat bagi para pembaca sejarah semuanya. Sekian Terimakasih

Referensi :

  • Marwati, Nugroho ” Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI ” Jakarta, Balai Pustaka, 1993.
Baca Juga :