Sejarah Kerajaan Aceh Lengkap Awal Berdiri hingga Keruntuhannya

Sejarah Kerajaan Aceh Rangkuman Lengkap– Pada pembahasan kali ini kita akan membahas tentang sejarah berdirinya kerajaan Islam yang ada di pulau sumatera yaitu Kerajaan Aceh. Sub tema pembahasan meliputi letak, kehidupan politik, ekonomi, budaya, masa kejayaan, keruntuhan, dan beberapa peninggalannya. Lengkap bukan? langsung saja kita simak penjelasan dibawah ini !

Kerajaan Aceh merupakan kerajaan Islam yang muncul sebagai kekuatan baru di Selat Malaka, yakni muncul pada abad ke 16, setelah jatuh-nya Malaka ke tangan Portugis. Para pedagang Islam tidak mengakui kekuasaan Portugis di Selat Malaka dan segera memindahkan jalur perniagaan lainnya di seluruh wilayah Nusantara. Peran Malaka sebagai pusat perdagangan Internasional digantikan oleh Kesultanan Aceh selama beberapa abad.

Setelah aktivitas perdagangan dan pelayaran yang berlangsung di Kerajaan Aceh mengalami perkembangan serta terjadi keramaian, kemudian perkembangan tersebut mempengaruhi beberapa bidang meliputi sosial, politik dan budaya.

Sejarah Kerajaan Aceh Lengkap

Kehidupan Politik Kerajaan Aceh

Berbicara mengenai kehidupan politik, Kerajaan Aceh pada awalnya didirikan oleh tokoh bernama Sultan Ali Mughayat Syah. Berdirinya kerajaan Islam ini berlangsung pada tahun 1530 setelah melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Pidie pada tahun 1564. Kemudian Aceh di bawah pimpinan Sultan Alauddin  (1537-1568) menyerang kerajaan Johor dan berhasil menangkap Sultan Johor, namun kerajaan Johor tetap berdiri dan menentang kekuasaan Aceh. Pada masa kepemimpinan Sultan Alaudin Riayat Syah, datang pasukan Belanda yang dipimpin oleh “Cornelis de Houtman” untuk meminta izin bergabung di kerajaan ini.

Selanjutnya, Sultan Ali Riayat sebagai pengganti dari sultan Alauddin. Ia berkuasa dari tahun 1604 hingga 1607. Pada masa inilah portugis melakukan penyerangan karena ingin melakukan monopoli perdagangan di Kerajaan Aceh. Tetapi usaha ini tidak berhasil. Setelah digantikan oleh Sultan Iskandar Muda dari tahun 1607 sampai 1636, kesultanan Aceh mengalami kejayaan dalam perdagangan. Banyak terjadi penaklukan di wilayah yang berdekatan dengan Aceh seperti Deli (1612), Bintan (1614), Kampar, Parimanam, Minangkabau, Perak, Pahang dan Kedah (1615-1619).

Selengkapnya : Kehidupan Politik dan Ekonomi Kerajaan Aceh

Kehidupan Sosial Kerajaan Aceh

Setelah kesultanan Aceh mengalami kemakmuran, berkembanglah sistem feodalisme dan ajaran agama Islam di kehidupan sosial masyarakat Aceh. Kaum bangsawan Aceh memegang kekuasaan dalam pemerintahan sipil, disebut golongan Teuku, sedangkan kaum Ulama yang memegang peran sangat penting dalam agama disebut Teungku. Namun antara kedua golongan masyarakat tersebut sering terjadi persaingan yang membuat melemahnya Kerajaan Aceh.

Sejak kekuasaan kerajaan Aceh yang berlangsung pada abad ke 12 sampai ke 13, telah terjadi permusuhan antara aliran Syiah dengan Sunnah Wal Jama’ah. Namun pada saat dipimpin oleh Iskandar Muda aliran Syiah memperoleh perlindungan dari Kesultanan Aceh dan berkembang sampai ke daerah kekuasaan Aceh. Aliran Sunnah Wal Jama’ah mengembngangkan Islam beraliran sunnah.

Baca juga :
1. Kerajaan Islam Samudra Pasai
2.Kerajaan Islam Perlak

Dari kehidupan sosial Kerajaan Aceh yang sudah kita bahas diatas, perkembangan dalam bidang kebudayaan tidak secepat perkembangan pada bidang ekonomi. Peninggalan yang terlihat nyata dari kerajaan ini adalah Masjid Baiturrahman.

Kehidupan Ekonomi Kerajaan Aceh

Kehidupan ekonomi Kerajaan Aceh mengalami perkembangan yang begitu pesat, perkembangan tersebut dipengaruhi oleh wilayah kerajaan yang begitu subur, sehingga membuat hasil bumi begitu berlimpah yakni dengan komoditas utamanya berupa lada. Meluasnya kekuasaan Aceh ke beberapa daerah di pantai barat dan timur Sumatera mempengaruhi meningkatnya penjualan lada yang dihasilkan. Selain itu, penguasaan kesultanan Aceh atas wilayah di Semenanjung Malaka berakibat pada bertambahnya komoditas ekspor, yaitu berupa lada dan timah.

Kerajaan Aceh
berhasil menguasai Selat Malaka yang saat itu adalah jalur perdagangan bagi para pedagang luar Nusantara. Kerajaan Islam ini juga menjalin hubungan perdagangan dengan bangsa Inggris dan Belanda, Persia, Arab, Turki, Cina, Siam, India dan Jepang. Barang yang di ekspor contohnya seperti rempah-rempah, lada, dan beras.

Sementara itu, impor meliputi kain dari India, minyak wangi dari Timur Tengah dan Sutra dari Cina atau Jepang. Dalam perdagangan, kapal yang digunakan sangat aktif dalam perdagangan bahkan pelayaran yang dilakukan bisa sangat jauh yaitu sampai di daerah Laut Merah.

Letak Kerajaan Aceh sangat strategis, yakni di Pulau Sumatra bagian Utara,dekat dengan jalur pelayaran perdagangan internasional pada masa itu. Aceh berkembang sebagai kerajaan Islam, dan mengalami masa kejayaan pada pemerintahan Sultan Iskandar Muda.

Perkembangan yang sangat pesat ini tidak terlepas dari letaknya yang sangat strategis. Sebagai pusat perdagangan membuat perkembangan kehidupan masyarakat di berbagai bidang, dan persaingan tidak dapat dihindarkan dengan Kerajaan Johor di Semenanjung Malaya.

Kejayaan Kerajaan Aceh

Kerajaan Aceh mengalami puncak kejayaan pada masa kepemimpinan Raja Sultan Iskandar Muda tepatnya pada tahun 1607-1636. Pada masa pemerintahannya, Aceh berhasil mengalami peningkatan di beberapa aspek yaitu meliputi bidang ekonomi, politik, hubungan internasional, perdagangan, militer, dan perkembangan agama Islam. Selain itu, Aceh juga berhasil mendesak kedudukan Portugis di wilayah Selat Malaka akibat perkembangan yang berlangsung saat dipimpin oleh Iskandar Muda.

Dalam pemerintahan-nya, Sultan Iskandar memperluas wilayah teritorial-nya dan terus meningkatkan perdagangan rempah-rempah menjadi suatu komoditas ekspor yang berpotensi bagi kemakmuran masyarakat. Ia mampu menguasai Pahang tahun 1618, daerah Kedah tahun 1619, serta Perak pada tahun 1620, dimana daerah tersebut merupakan penghasil timah. Bahkan dimasa kepimpinannya, Kesultanan Aceh mampu menyerang kedudukan kerajaan Johor dan Melayu hingga Singapura tahun 1613 dan 1615.

Pada pemerintahan Sultan Iskandar Muda kejayaan bisa dilihat dari politik luar negeri Kerajaan Aceh. Ia berhasil melakukan hubungan politik dengan bangsa Inggris, Turki, Belanda dan Francis. Iskandar Muda pernah mengirim utusan menuju ke Turki dengan membawa hadiah berupa lada 1 karung, langkah yang dilakukan tersebut kemudian dibalas dengan dengan diberikannya bantuan militer berupa tentara dan sebuah meriam.
Kemajuan bisa dilihat juga pada bidang

Agama di Kerajaan Aceh

Sementara itu, kemajuan yang berhasil pada bidang Agama di kerajaan Aceh adalah berhasilnya melahirkan ulama yang cukup ternama. Karangan para ulama dijadikan rujukan, contohnya ulama Hamzah Fansuri pada bukunya. Selanjutnya kejayaan dalam bidang ekonomi, kerajaan ini berhasil melakukan hubungan ekonomi dan perdagangan dengan bangsa lain seperti Arab, Turki, Mesir, India, Inggris, Francis, Jepang dan Cina.

Komoditas Impor dan Ekspor Kerajaan Aceh

Komoditas yang di import secara lengkap yang terdapat pada Kitab Adat Aceh meliputi anggur, beras, gula, sekar lumat, kurma, guci, timah, tekstil, katun, besi, batik, kertas, kipas dan opium. Sementara komoditas ekspornya yaitu lada, timah, saapan, damar, kayu cendana, gandaruken, obat-obatan, getah perca dan damar.

Dibawah kendali Sultan Iskandar Muda, kehidupan masyarakat di kerajaan Aceh makmur dan tentram serta memiliki titik-titik sebagai pusat ekonomi, yaitu daerah pelabuhan yang terdapat di pantai timur, barat sampai selatan. Pusat perekonomian ini membuat  Aceh menjadi kaya, rakyatnya hidup makmur dan sejahtera.

Baca juga :
1Sejarah Kerajaan Demak
2. Sejarah Kerajaan Majapahit

Keruntuhan Kerajaan Aceh

Kerajaan Aceh mengalami masa keruntuhan yang disebabkan oleh beberapa faktor, meliputi :

  • Kematian Sultan Iskandar Muda pada tahun 1630, setelah kematian tersebut tidak ada lagi raja yang berhasil mengendalikan wilayah Aceh yang sangat luas. Setelah kerajaan ini dipimpin oleh Sultan Iskandar Thani pada tahun 1637 sampai 1641, Kesultanan Aceh mulai mengalami kemunduran. Bahkan setelah Iskandar Thani kemunduran sangat terasa pada kerajaan ini.
  • Munculnya pertikaian yang terjadi di internal kerajaan yang berlangsung terus menerus antara golongan ulama dan bangsawan membuat kerajaan ini semakin melemah. Pertikaian yang terjadi disebabkan oleh perbedaan aliran keagamaan yaitu antara aliran Sunnah wal Jama’ah dan Syiah.
  • Daerah kekuasaan Kerajaan Aceh semakin sedikit, hal ini karena daerah seperti Pahang, Johor, Siak dan Minangkabau melepaskan diri. Daerah yang memisahkan diri kemudian menjadi kerajaan yang merdeka dari kekuasaan aceh. Kemerdekaan tersebut juga ada yang berhasil dilakukan dengan bantuan asing dengan motif perdagangan. Selama kurang lebih 4 abad berkuasa, kerajaan Islam ini akhirnya mengalami keruntuhan pada awal abad ke 20 karena berhasil dikuasai oleh bangsa Belanda

Raja-raja Kerajaan Aceh

  1. Sultan Ali Mughayat, memerintah pada tahun 1514-1528 Masehi.
  2. Sultan Salahuddin, (1528-1537 Masehi).
  3. Sultan Alaudin Riayat Syah al-Kahar, (1537-1568 Masehi).
  4. Sultan Sri Alam, (1575-1576 Masehi).
  5. Sultan Zain al-Abidin, (1576-1577 Masehi).
  6. Sultan Ala’ al-Abidin, (1577-1589 Masehi).
  7. Sultan Buyung, memerintah kerajaan Aceh pada tahun 1589-1596 Masehi.
  8. Sultan Ala’ al-Din Riayat Syah Sayyid al-Mukammil, (1596-1604 Masehi).
  9. Sultan Ali Riayat Syah, (1604-1607 Masehi).
  10. Sultan Iskandar Muda Johan Pahlawan Meukuta Alam, (1607-1636 Masehi)>
  11. Iskandar Thani, (1636-1641 Masehi).
  12. Sri Ratu Safi al-Din Taj al Alam, (1641-1675 Masehi.)
  13. Sri Ratu Naqvi al-Din Nur al-Alam, (1641-1678 Masehi).
  14. Sri Ratu Zaqqi al-Din Inayat Syah, (1678-1688 Masehi).
  15. Sri Ratu Kamalat Syah Zinat al-Din, (1688-1699 Masehi)
  16. Sultan Badr al-Alam S Hashim Jamal al-Din, (1699-1702 Masehi).
  17. Sultan Perkasa Alam S L, memerintah di Kerajaan Aceh pada tahun 1702-1703 Masehi
  18. Sultan Jamal al-Alam Badr al-Munir, (1703-1726 Masehi).
  19. Sultan Jauhar al-Alam Amin al-Din 1726
  20. Sultan Shyam al-Alam, (1726-1727 Masehi).
  21. Sultan Ala‘ al-Din Ahmad S,  1727-1735 Masehi
  22. Sultan Ala‘ al-Din Johan Syah,  1735-1760 Masehi
  23. Sultan Mahmud Syah (760-1781 Masehi).
  24. Sultan Badr al-Din (1781-1785 Masehi).
  25. Sultan Sulaiman Siah, memerintah pada tahun 1785-…
  26. Alauddin Muhammad Daud Syah.
  27. Sultan Ala‘ al-Din Jauhar al-Alam, (1795-1815 dan 1818-1824 Masehi).
  28. Sultan Syarif Saif al-Alam (1815-1818 Masehi).
  29. Sultan Muhammad Syah, (1824-1838 Masehi).
  30. Sultan Sulaiman Siah, memerintah pada tahun 1838-1857 Masehi.
  31. Sultan Mansur Syah (1857-1870 Masehi).
  32. Sultan Mahmud Syah, memerintah pada tahun 1870-1874 Masehi.
  33. Sultan Muhammad Daud Syah, (1874-1903 Masehi).
Baca Juga :

Demikian pembahasan mengenai Sejarah Kerajaan Aceh  secara lengkap dan jelas. Semoga bermanfaat bagi pembaca semua. Jangan lupa baca artikel menarik lainnya terkait dengan sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia. Sekian, kurang lebihnya mohon maaf. Terimakasih

One Comment